balon udara


kesulitan dalam pendeskripsian
May 24, 2009, 6:33 pm
Filed under: journey

DIKARENAKAN TERLALU SERING MENGGUNAKAN NALAR.

lalu? tidak terbiasa menggunakan perasaan. jadi, saat terserang kemelut perasaan, BLAM. bungkam. diam. tidak tahu mau bagaimana dan bilang apa.

lepas dari kesulitan saya menanggulangi masalah saya, saya sejujurnya tidak terlalu paham dengan apa yang sedang saya hadapi saat ini. hanya sekelebat bayangan-bayangan yang belum terjadi, yang tiba-tiba muncul begitu saja di hadapan saya. sedangkan dengan seluruh fantasi yang muncul dari pamikiran-pemikiran aneh saya ini, tidak dapat membantu apa-apa untuk masalah yang sedang saya hadapi.

saya sedang berhadapan dengan sebuah kenyataan. yang cepat atau lambat pasti akan terungkap. yang entah siap atau tidak pasti harus muncul ke permukaan. yang entah apa akibatnya pasti akan sangat berpengaruh pada masa depan saya.

sebetulnya bisa dilihat, tulisan saya ini akan semakin melantur kalau saya tidak segera mengungkapkan apa yang saya rasakan. seperti yang tertera pada judul, saya mengalami kesulitan dalam pendeskripsian. saya seakan tidak bisa menusun kata-kata yang padu untuk mendeskripsikan situasi yang saya alami.

saya akan mulai dari perubahan yang saya rasakan. yang sejujurnya, saya tidak suka. pertama, saya berubah dari orang yang cuek menjadi sensitif. secara penglihatan kasat mata memang tidak ada yang berubah, tapi jauh di dalam hati saya, ada gejolak entah apa yang siap menerkam diri saya sendiri. saya tidak sensitif dengan semua hal. saya hanya sensitif untuk hal-hal yang menyangkut dia. kedua, saya berubah dari orang yang hampir selalu menggunakan nalar menjadi orang yang menggunakan perasaan. tapi untuk hal ini, nalar saya meredam perasaan saya dengan memberi alasan logis agar dia mau tetap bersemayam di bawah sana.

kata salah 2 orang teman kepada saya tentang keadaan saya, yang intinya, “berarti kamu makin sayang dan peduli sama dia”, dan, “mungkin kamu lagi butuh dia, kamu kan lagi mau ujian.” semua yang mereka bilang, masuk diakal. tapi belum cukup meyakinkan diri saya untuk langkah yang harus saya ambil selanjutnya. saya masih tetap bingung. ada apa dengan diri saya? saya tidak suka ada dalam keadaan yang menurut teman saya adalah keadaan yang menggunakan hati. buat saya ini hanya mengganngu stabilitas.

ada perang antara pikiran dan perasaan saya.

perasaan saya panas, tidak tenang, tidak karuan, cemburu, seperti anak kecil, egois, khawatir, berfirasat-firasat aneh, dan lain sebagainya. di lain sisi pikiran saya sangat tenang, tau arah, tidak peduli, yakin, percaya, dewasa, sabar, dan lain sebaginya.

saya bingung.

saya tidak bisa memilih salah satu atau mengabaikan keduanya. saya hidup dengan mereka berdua di dalam diri saya. saya mau tidak mau harus mendamaikan keduanya. dan tindakan saya adalah mengatakan apa yang ada pada dua sisi diri saya :

perasaan saya bilang, saya cemburu, dengan alasan entah apa, saat dia harus pergi tanpa aku, terlebih bila saat itu adalah saat dia berdua dengan wanita lain.

pikiran saya bilang, saya tidak sepantasnya merasakan hal-hal aneh di atas, karena dia punya hak-hak yang sama seperti saya untuk pergi dengan siapapun yang dia mau, terlebih lagi karena dia sudah bilang kepada saya perihal kepergiannya itu. dan perlu saya ingat bahwa saya pun sering melakukan hal yang sama.

dan sebagai hasil akhir dari pernyataan-pernyataan saya di atas, saya dapat menyimpulkan bahwa semakin hari rasa sayang saya kepadanya semakin bertambah, sehingga perasaan saya tidak ingin jauh darinya sedangkan pikiran saya harus tetap menjaga perasaannya sedekat mungkin dengan logika.

cukupkah tindakan yang saya lakukan ini untuk bisa mendamaikan perasaan dan pikiran saya? mungkin tidur akan membuatnya lebih baik. saya tidak butuh tanggapan. saya hanya perlu meluapkan apa yang ada di dalam perasaan dan pikiran saya, selagi saya masih terjaga. selamat pagi.

~berhasil ditulis dengan ketegangan urat dan otot




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.