balon udara


about her and him
July 7, 2009, 1:57 am
Filed under: hanya cerita

from the title, it’s totally not about me.

for both of you, whom i could called you both as ababil, i just can say, be mature and don’t be lied, spesially to yourself. calm down. it’s just a little of thousand taste of the world.

haha

apasih dari tadi ngomonginnya. apeu banget. hahaha

dari kacamata yang bisa saya lihat, beginilah keadaannya.

about him. senang bermain-main, dengan para wanita tentunya. melempar terlalu banyak kembang api dan mendapat tanggapan yang positif. didesak oleh teman-teman untuk melakukan hal lain karena tindakannya dianggap melanggar rules yang entah kapan mereka buat. kemudian setelah itu entah apa yang ada di hati dan pikirannya, dia bermain belakang. bilang gini ama temen-temen dan melakukan gitu kepada si her. hemm. agak membingungkan dan teka teki ini yang belum bisa saya pecahkan.

about her. senang diberi kesenangan oleh lelaki, him khususnya. tanpa pikir panjang dan tanpa mempedulikan omongan orang lain, dia menerima begitu saja kehadiran dan umpan-umpan him. menghempas semua kemungkinan buruk dan percaya begitu saja dengan omongan him. dan sikap nya berubah sejak mengenal him, menjadi lebih manja dan selalu ingin diakui.

about them. sudah bisa terbaca mungkin apa yang terjadi kemudian. bermain belakang. ketahuan. ketakutan. tetap nekat. sampai akhirnya salah satu dari mereka menghempaskan yang lain. disambut dengan terpukulnya pihak yang terhempas dan tidak ikhlas menghadapi semuanya.

yah, mau bagaimana lagi? kalau masih mau memperjuangkan sih terserah, tapi if i were u, i don’t want to waste my time to get back (him/her). yah, kalau dikatakan saya pernah mengalami hal serupa, it’s not same at all. hahaha

oke. sekedar berkomentar dan memberi saran. jangan suka bermain api. jangan suka main belakang juga. kalau emang ga ada apa-apa ya biasa we atuh. dan kalau emang serius juga ga usah takut gitu. dan jangan suka main lift. naik tinggi dan sewaktu-waktu menurunkan kembali ke lantai dasar, atau bahkan basement. rasanya mual. saya udah pernah ngerasain. dan, 1 lagi, karma itu ada.

“ngaca…”

hemmm

goodnight.



cerita pendek : anak labil
February 26, 2009, 4:56 pm
Filed under: hanya cerita

Cerita anak labil ini bermula ketika dia, kita sebut saja Mawar, sedang dihantui ketakutan. Ketakutan untuk bergerak. Seperti buah simalakama mungkin ya. Maju salah, diam salah, mundur salah. Serba salah. Kata-kataku ini tidak akan menjelaskan apa-apa kecuali aku menceritakan keadaannya. (ya kenapa tidak mulai cerita)

Anak ini, Mawar, sedang dalam masa labil dalam hidupnya. Sebetulnya masa ini agak terlambat untuk usianya. Orang menganggap dia sudah cukup deawasa dan tidak akan mungkin selabil itu. Di masa akhir tingkat sekolahnya ini, dia baru saja bangkit dari tidurnya. Bangkit dari ketidaksadarannya akan masa depan. Dia baru saja sadar bahwa dia harus bergerak.

Ceritanya akan berakhir bahagia kalau hanya sampai di situ, karena seharusnya hasil dari sebuah usaha akan berbanding lurus dengan usaha tersebut. Akan tetapi, saat ia baru bangkit itu, ujianpun datang. Memang, kalau kita ingin mencapai sesuatu yang besar, hambatannyapun akan besar. Sama seperti Mawar.

Di saat dia sedang ada di puncak semangat, dia harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa keluarganya sedang dalam ancaman. Kehancuran. Sebagai anak tertua dari 4 bersaudara tentunya ini membuatnya sedikit lebih terbebani. Mawar memiliki tanggung jawab lebih besar untuk menjaga adi-adiknya. Selain dia juga harus berusaha untuk mengembalikan keutuhan keluarganya.

Sebagai anak pertama, Mawar biasa menjadi tempat bertumpu semua anggota keluarga. Mulai dari Papi, Mami, sampai adik-adiknya. Saat ini, kesulitan terbesarnya adalah pilihan antara membela Mami yang telah mengandungnya, atau Papi yang telah membiayainya. Secara etis jawaban yang ada akan diberikan adalah Mami. Tetapi sekali lagi harus aku tekankan, bagaimana jika kehidupan Mawar adalah real? Akankah kamu menganggap hal ini sesepele memilih baju? Tentu saja tidak bukan? Yah, itu yang sedang saya pikirkan.

Malam itu, Mawar pulang larut. Bekerja part time di salah satu counter makanan siap saji mempbuatnya kelelahan. Ditambah lagi dengan pertengkarannya dengan Papinya tadi sore. Semua membuatnya penat. Pikirannya kosong. Mawarpun mengemudikan motornya dengan oleng. Pikirannya menerawang menembus awan malam. Sampai akhirnya ia tiba di rumah dan langsung masuk kamar dan menguncinya. Ia rebahkan badannya di atas ranjangnya yang empuk. Menerawang. Kosong.

Siapa aku? Kenapa aku ada di sini? Haruskah aku melakukan apa yang aku lakukan sekarang? Pantaskah?

Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Mulai dari pikiran negatif tentang papinya, nasib adik-adiknya, perasaan ibunya. Ia benamkan seluruh pikiran, perasaan, kekesalan, kesedihan, semuanya, di dalam tangisannya. Tangisan tak bersura, yang hanya bisa didengar olehnya. Sampai dia merasa nyaman, ringan. Seperti melayang. Terpisah dari tubuhnya yang indah. Mendadak ia bisa melihat jasadnya tergeletak di atas kasur sedang dia, rohnya, sedang melayang-layang di atas.

Teriak. Tak ada suaranya.

Hanya bisa mendengar. Rohnya bisa terbang bebas. Sampai ia bisa mendengar suara memanggil-manggil namanya. Tak sanggup menjawab, ia hanya menghampiri suara itu. Berada di depan kamarnya. Kedua orang tuanya menggedor-gedor pintu sambil menyerukan nama Mawar. Tak ada jawaban membuat mereka panik. Akhirnya pintupun didobrak. Mami menghambur ke arah Mawar. Dipeluknya anak sulungnya itu erat-erat. Menjadi lebih panik saat melihat pil-pil bertaburan di atas ranjangnya. Pil obat penenang. Yang diminum dengan dosis lebih dari yang dianjurkan. Membuat Mawar melayang. Terbang jauh dari hidupnya.

Penyesalan.

Satu kata itu yang ada di benak tiap orang yang ada di sekitarnya.

Sebenarnya hari itu kedua orang tua Mawar hendak memberi tahu bahwa mereka sudah mempunyai penyelesaian untuk masalah yang kemarin muncul. Tapi apa mau dikata. Pil sudah terlanjur diminum. Mawar terus terbang. Menjauh dari hidup simpelnya. Menuju tahapan hidup yang selanjutnya. Meninggalkan orang-0rang di kehidupan lamanya untuk bertemu orang-orang yang telah mendahuluinya.

Langkah Mawar memang salah. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab atas kematiannya? Orang tuanya kah? Adik-adiknya kah? Atau teman-temannya yang tidak sedikitpun peduli akan keadaannya? Atau bahkan aku sebagai penulis ceritanya?

Tidak ada yang salah. Hanya kurang beruntungnya dia menjalani hidup. Andai Mawar mau lebih bersabar. Tapi semua toh sudah terjadi. Untuk apa didebatkan lagi? Selamat jalan Mawar. Semoga perjalanan melayang-layangmu menyenangkan.

Untuk Mawar yang berduka.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.